Kamis, 19 Januari 2017

SAAT JATUH CINTA, DUH SENENGNYA*




Bayangkan jika kita bisa jatuh cinta. Dengan makhluk yang namanya dirahasiakan. Saat orang lain lari ketika ia datang dengan segala bentuk (mulai dari baca, menulis, merangkum materi, ujian), kita justru semakin sayang. Bahkan merasa kehilangan ketika sehari saja tak bertemu. Rasanya ingin berduaan terus sama dia. 

Dan saat benar-benar kita sayang dengan makhluk yang namanya dirahasiakan, ternyata dia mengenalkan dengan teman dekat-dekatnya. Mereka adalah ilmu, pintar, rajin, dan semangat. Aduhai. Hidup jadi lebih gaul dan berilmu. Hidup jadi lebih asyik. 

Sampai akhirnya kita membisikkan ke teman sebelah tentang siapakah dia, "Dia adalah belajar." #cintabelajar #pengobarbelajar #semangatsinau 

*Naskah diolah dari buku "Bikin Belajar Selezat Coklat."

Kebahagiaan




Oleh: Zakiy Zakaryya Ali

Orang miskin menyangka, kebahagiaan terletak pada kekayaan.
Orang gagal menyangka, kebahagiaan terletak pada kesuksesan.
Orang sakit menyangka, kebahagiaan terletak pada kesehatan.
Dan sangka-sangkaan lainnya.

“Selalu bahagia dalam kondisi apapun.” Inilah yang selalu dikejar oleh setiap manusia. Tapi apakah yang dimaksud bahagia itu sendiri? 

Ingat, semua kenikmatan  bisa menjadi jalan yang menghantarkan kepada kebahagiaan. Tetapi  semua itu adalah sarana. Bukan bahagia itu sendiri.
Kebahagiaan adalah kondisi hati, yang dipenuhi dengan keimanan dan perilaku sesuai dengan keimanannya itu. 

Manusia yang berilmu hidupnya penuh dengan kebahagiaan dalam keimanan dan keyakinan, yang hidupnya tidak terombang-ambing di setiap keadaan bagaimana pun.
Dalam kondisi apapun orang yang beriman dan berilmu hidupnya selalu bahagia, karena dia sudah mengenal Allah, menerima apa yang telah Allah putuskan dan berusaha untuk hidup dengan segala macam peraturan yang telah ditetapkan oleh  Allah. Orang yang seperti  inilah yang benar-benar menjadi hamba Allah.

Dalam kondisi apapun, manusia seperti ini akan hidup dalam kebahagiaan. Karena  hidupnya hanya mengacu kepada Allah dan tidak terlalu peduli dengan perbuatan manusia terhadapnya. Alangkah bahagianya hidup yang semacam itu; bahagia lahir dan batin, dunia dan akhirat.

Bahagia sejati dan sesungguhnya hanya ada di surga. Kebahagiaan dunia hanyalah sementara yang tak ada apa-apanya, ibarat orang Jawa kita di dunia ini hanyalah “mampir ngombe”. Maka di kehidupan yang bahagia atau sengsara dan sangat sebentar ini, kita harus bersungguh-sungguh untuk meraih kebahagiaan yang sesungguhnya; kebahagiaan surga Allah Ta’ala.
 
Ditulis ulang dan diubah seberlunya dari buku: Abdullah Hadrami, 2015, Mata Air Inspirasi,  Yogyakarta: Pro-U Media.

*Naskah Lolos Kusen per 13 Januari 2017

Selasa, 17 Januari 2017

CITA-CITA JAUH KE DEPAN


Oleh: Annafi`ah Firdaus 

Kami menyebutnya Madrasah Sore Sajada. Tempat mencari ilmu. Tempat yang dengannya, berharap malaikat datang untuk mengepakkan sayap. Mengepakkan sayap? Tentu! Itulah keutamaan dari para pencari ilmu. Profesi yang mulia kan? Bagaimana nggak mulia, makhluk “sekelas” malaikat yang apabila disuruh sujud kepada Allah seribu tahun yang tidak pakai acara mengeluh saja “merendah” pada pencari ilmu. Ditambah, seluruh penghuni laut pun ikut mendoakan para pencari ilmu agar mendapatkan kebaikan dari setiap ilmu yang diperoleh. 

Dan di sore itu (9/1), kegiatan yang dilakukan cukup spesial. Melihat ciptaanNya untuk semakin mengenal Sang Pencipta dengan jalan-jalan sekitar madrasah. Kemudian, terdengarlah sebuah percakapan yang tampak serius terdengar dari seorang murid dan sang guru. 

 “Ustadzah, tadi malam aku tidak bisa tidur. Susah sekali tidur.”
Lha, emang kenapa?”
“Tadi malam aku merenung Ust. Memikirkan, gimana ya besok kalau hari Kiamat datang? Aku takut tidak bisa ketemu dengan adikku lagi. Aku takut berpisah dengan adik.”
“Jadi, cita-cita tertinggi kamu, kelak bisa masuk surga bareng adik gitu?”
“Iya Ust.”
“Bagus itu. Nah, kenapa gelisah? Kan kamu sudah tahu apa syarat bisa masuk surga. Apa? Masih ingat?”
“Iman Ust?”
“Iya. Iman. Kalau kamu dan adikmu, bahkan bapak ibu, kakek nenek, beriman kepada Allah dan hari Kiamat suatu saat kelak bisa kumpul bareng di surga. Asyik kan?”
Agak diam dan menunduk kemudian tersenyum, ia menjawab, “Iya Ustadzah.” 

Percakapan yang “asyik” ya? Membicarakan cita-cita memang asyik. Apalagi cita-cita yang menyangkut masa depan sesungguhnya. Masa depan untuk tinggal bareng dengan keluarga di surga. Duduk-duduk bersama dan saling membicarakan apa saja yang dulu dilakukan di dunia. 

Maka, kita sesungguhnya bisa belajar dari seorang murid madrasah tadi. Apakah itu? Jikalau punya cita-cita, haruslah berujung surga. Guru yang masuk surga, penjaga toko masuk surga, penulis masuk surga, pedagang masuk surga dan mau jadi apapun itu haruslah masuk surga. Sudah S3 kan? Siap berjuang sampai surga maksudnya! 

*Naskah yang lolos KUSEN JAN Per 13 Januari 2017